Archive

Archive for August, 2007

MENGAPA LANGIT BERWARNA BIRU?

August 15, 2007 asaria 12 comments

Anda termasuk jenis orang yang hobi memandang langit seperti saya? Jika iya, pernahkah sesekali terlintas di benak Anda, kenapa langit berwarna biru?

Tahukah Anda, sebenarnya langit tidaklah berwarna biru, melainkan terdiri dari warna yang berbeda-beda. Kadang abu-abu atau hitam (contoh langit malam), kadang merah atau emas (langit senja dan kala sunrise tentunya), tak jarang pula berwarna putih atau biru mengilat. Subhanallah.

Ternyata langit berwarna-warni juga ya. Nah pertanyaannya kemudian adalah kok bisa ya?

Langit berwarna hitam tentunya karena tidak ada matahari yang bersinar di malam hari. Sementara langit yang berwarna abu-abu menunjukkan terdapat banyak partikel debu sebagai akibat dari gas-gas kotor di udara. Contohnya, di kota-kota besar dan daerah pabrik (~jadi ingat kisah kupu-kupu abu-abu dan berwarna cerah waktu pelajaran biologi SMP dulu~).

Jika dilihat lagi, ternyata warna-warna langit ini sangat erat kaitannya dengan kedudukan bumi terhadap matahari serta tingkat kebersihan dan polusi udara di suatu tempat. Selain kedua faktor tersebut, ada satu faktor utama lagi yang menyebabkan warna-warni matahari in, yaitu sifat cahaya tampak. Ingat percobaan cahaya putih yang dilewatkan ke prisma kan? setelah dilewatkan oleh prisma cahaya tersebut terurai menjadi 7 warna: mejikuhibiniu. Ini salah satu percobaan yang bisa dilakukan untuk mengamati cahaya tampak. Nah, sama halnya dengan percobaan prisma ini, cahaya putih yang dipancarkan oleh matahari juga terdiri dari ketujuh warna tersebut. Mulai dari ungu yang memiliki panjang gelombang terpendek hingga cahaya merah dengan panjang gelombang terpanjang. Untuk lebih detail, kedudukan warna-warna ini terhadap panjang gelombang dan tingkat energinya dapat dilihat digambar spektrum cahaya berikut.

Gambar 1. Percobaan Cahaya Tampak

Gambar 2. Spektrum Energi dan Cahaya Tampak

 O iya, dalam fisika energi dapat didefisinikan sebagai kostantaPlanck h dikalikan dengan frekuensi. Jika dari gambar di atas kita dapat menyimpulkan bahwa panjang gelombang lambda  berbanding terbalik dengan frekuensi v, maka energi akan besar jika panjang gelombang mengecil. Mmm, berarti cahaya ungu atau biru memiliki energi yang lebih besar dibandingkan cahaya merah. Nah, makanya kita mengenal istilah Si Api Biru. Api yang berwarna biru jauh lebih ‘tajam’ dari pada api yang berwarna merah. Aha.

Kembali lagi ke permasalahan matahari. Untuk sampai ke Bumi, cahaya putih matahari haruslah melewati atmosfer atau lapisan udara disekeliling Bumi. Atmosfer merupakan sederetan gas (seperti Oksigen, Nitrogen, dan Karbondioksida yang dibutuhkan terutama dalam proses pernapasan makhluk hidup), partikel air, serta debu. Cahaya putih matahari melewati campuran ini (~ingat percobaaan senter yang dipancarkan ke sebuah gelas berisi air keruh~)  dengan lintasan yang berbeda-beda. Akibat tumbukan antara partikel cahaya (foton) dan partikel penyusun campuran udara di atmosfer inilah kita melihat langit dalam aneka warna tadi. Cahaya yang terurai akan mengalami pengurangan energi akibat proses tumbukan dengan partikel dan mempengaruhi kekuatan pancaran cahaya sampai di Bumi.

Menurut Lord John William Rayleigh, langit biru disebabkan karena cahaya biru dan hijaulah yang paling kuat dipancarkan oleh matahari. Warna biru ini kemudian tertangkap oleh mata kita, sehingga kita mengatakan langit tersebut biru. Begitu pula halnya pada senja hari. Langit cenderung berwarna merah karena cahaya merah dengan panjang gelombang terpanjanglah yang mampu menempuh perjalanan Matahari-Bumi.

Bagaimana sih cara mengukur panjang gelombang ini? Sederhana saja. Panjang gelombang dapat diukur dengan mengalikan jarak tempuh dengan 2. Lho, berarti panjang gelombang ini, jarak bolak-balik sebuah gelombang menempuh jarak tertentu donk? Yup.

Wah, ternyata fisika itu menyenangkan ya? Don’t u think so?

 

 

Categories: Mengapa Begitu?

BERHENTI MENYERAH

August 10, 2007 asaria Leave a comment

Pagi ini saya tertegun memandang sebuah amplop yang saya genggam. Di sudut amplop itu tertulis, “Untuk Ichee. Semangat ya, Dek!” Di bawah tulisan itu tertulis, Bunda Fatih. Saya heran, kapan amplop ini dimasukkan ke tas saya?

Tes tes. Tak terasa air mata saya jatuh. Teringat kejadian beberapa hari lalu. Ketika saya dikagetkan oleh kehadiran seseorang sewaktu memasuki kamar. Orang tersebut biasa saya sebut Mbae Terbaik di Dunia. Seorang kakak yang saya kenal empat tahun lalu di kost-an pertama di Bandung. Saya malu, sebagai adik, saya-lah yang seharusnya mengunjungi Mbae duluan.

Mbae hanyalah jalan dari Allah untuk mengabulkan permintaan saya. Beberapa minggu terakhir, saya sering memohon, “Allah mudahkan urusan hamba dan berikan hamba kejernihan berpikir serta jauhkan hamba dari kemalasan, sehingga tugas akhir hamba bisa selesai tanggal 10 Agustus ini ya Rabb. Agar hamba bisa membahagiakan orang tua dengan melihat anaknya diwisuda.”

Sebenarnya minggu ini adalah minggu terberat buat saya. Sebentar lagi, tugas akhir tersebut harus dikumpulkan sementara software yang saya buat masih error di mana-mana, belum lagi ada program yang tak ter-save dengan baik sewaktu di-close. Saya merasa tertekan. Terlebih seorang teman yang selama ini saya andalkan untuk membantu uring-uringan karena sebuah kesalahan yang telah saya lakukan. Huff. Saya hanya bisa menangis. Harapan lulus Oktober, buyar. Saya memutuskan untuk menyerah. Saya pun jadi malas-malasan mengerjakan tugas akhir. Padahal saya sudah berjanji pada orang tua dan beberapa teman kalau saya akan lulus Oktober ini. Saya malu.
Alhamdulillah, Allah memberi jalan. Setidaknya, menangis dan mengadu kepada Allah terutama di sepertiga malam membuat beban saya perlahan berkurang. Perlahan hati saya menjadi plong. Saya pasrah. Saya hanya bisa bertaubat karena telah berharap pada makhluk-Nya. Padahal tiada daya dan upaya melainkan Dia semata. Allah-lah penggenggam diri kita.

Allahu Akbar. Allah menggerakkan diri saya membaca sebuah postingan yang pernah saya tulis dulu. Postingan tentang sumber motivasi hakiki.  Di postingan itu juga terdapat beberapa comment dari sahabat-sahabat yang merasa termotivasi membaca postingan tersebut. Sekali lagi, saya malu. Malu pada diri sendiri. Saya-lah yang menulis tulisan itu, tapi kenapa justru orang lain termotivasi sementara saya tidak? What a bulshit!

Allahu Akbar. Maha Suci Allah. Allah membuka pikiran saya. Saya menyusun kembali rencana apa saja yang bisa saya lakukan. Saya merefleksi diri, kenapa saya belum berhasil? Kesalahan apa yang telah saya lakukan? Sejauh mana usaha saya selama ini?

Alhamdulillah, Allah lagi-lagi mengabulkan do’a saya dengan memberikan saya berbagai kemudahan. Hubungan dengan teman yang awalnya uring-uringan, menjadi baik. Bahkan Allah memudahkan urusan saya dengan teman lain yang siap membantu memperbaiki softwre yang saya buat. Tak hanya itu, Allah juga mempertemukan saya dengan orang-orang yang memacu saya untuk bisa menyelesaikan tugas akhir tersebut. Allah memompa saya dengan motivasi lain. Bayangan berkumpul kembali dengan orang tua setelah di wisuda, proyek dosen ke Bali plus bungee jumping, dan berbagai motivasi lain. Namun yang lebih utama dari itu semua, mensyukuri nikmat ilmu yang telah diberikan oleh Allah.

Dan nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang akan kamu dustakan?

Ya, Allah memang belum mengabulkan keinginan agar tugas akhir saya beres hari ini. Lebih dari itu Allah memberikan saya orang-orang yang selalu memotivasi sehingga saya bisa bangkit kembali. Pelajaran berharga yang tak akan saya dapatkan di training motivasi manapun.

Allah, betapa luas karunia-Mu. Engkau tak pernah berhenti memberikan nikmat-Mu di saat diri ini lengah. Ya ‘Alim, Ya Rasyid, cukuplah Engkau yang jadi penolongku.

KOLEKTOR KRESEK

August 10, 2007 asaria Leave a comment

tanggung91jpg.gif

Tau kresek kan?

Buat yang masih bingung apa itu kresek, sederhanya kresek itu adalah kantong plastik belanjaan yang biasa kita dapatkan jika membeli barang di pasar, warung, bahkan supermarket.Umumnya kantong kresek ini berwarna hitam atau putih. Tak jarang, ada juga yang berwarna biru dan merah. Saya ingat dulu saya juga lihat ada yang berwarna merah-putih (biasanya dipakai sebagai pengganti tas buat yang lagi ospek) dan merah-oranye.

Kolektor kresek?

Iya, selain sebagai kolektor sampah (baca: Pilah Sampah, Yuk!), saya juga memiliki kerja sampingan sebagai kolektor kresek terutama kresek hitam. Kresek-kresek ini biasanya saya dapat dari hasil ‘berburu’ di warung dan mini/super/hypermarket. Maksudnya, kalau belanja di kasih kantong kresek, gitu.

Biasanya kresek-kresek tersebut saya simpan dalam beberapa waktu dan jika sudah cukup banyak, saya memberikannya ke warung di dekat rumah. Tujuannya, agar kresek-kresek tersebut bisa dimanfaatkan kembali. Soalnya sayang aja, kresek kan masuk kategori plastik. Seperti yang kita tahu, plastik merupakan salah satu material yang sulit terurai, plus waktu pembusukannya juga lama. Kalo gak salah sampai ratusan tahun (~tapi dengar-dengar sekarang sudah ada plastik ramah lingkungan yang bisa terurai dalam jangka waktu beberapa tahun~). Hitung-hitung pemakaian ulang (reuse) kan? Bukankah pemakaian ulang salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk menghemat sumber daya alam?

Kantong kresek baru biasanya dihasilkan dari proses daur ulang kresek-kresek bekas. Karena proses pendauran ulang ini, kresek, khususnya kresek hitam disinyalir bisa menyebabkan kanker pada tubuh. Zat kimia yang terkandung dalam kantong kresek beresiko masuk ke makanan, jika makanan tersebut dimasukkan dalam keadaan panas. Makanan yang sudah terkontaminasi zat ini biasanya berwarna kehitam-hitaman. Jadi sebagai pencegahan, hindari memasukkan makanan panas ke dalam kantong kresek hitam.

Satu hal lagi, sebenarnya ada cara yang jauh lebih efektif dalam penghematan kresek di bandingkan pemakaian ulang, yaitu kurangi pemakaian kresek! Biasakan membawa kantong belanja sendiri jika berbelanja.

Categories: Better Life