Kemarin ini salah seorang sahabat memberi saya sebuah syair tentang do’a seorang pencinta kepada Tuhan-nya. Nice. Sebagian dari Anda mungkin cukup familiar dengan syair ini. Mmm, rasanya dulu saya juga pernah baca di mana… gitu. Okay, saya cuplik di sini aja ya, biar Anda tak penasaran.
JIKA AKU JATUH CINTA
Ya Allah, jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu, agar bertambah kekuatanku untuk menyintai-Mu
Ya Muhaimin, jika aku jatuh hati, izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya bertaut pada-Mu agar tidak jatuh aku dalam jurang cinta nafsu
Ya Rabbana, jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling daripada hati-Mu
Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu, rindukanlah akau pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu
Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu, janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhir-Mu
Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu, jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu
Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu, jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu
Amin. It’s nice, isn’t it? Cuma saya agak sedikit bingung sih dengan baris nomor dua terakhir. Perjalanan panjang menyeru manusia padaMu? Maksudnya apa ya?
Well, kalo ngomongin love alias cinta mah gak ada matinya. Sayangnya, sekarang makna cinta itu lebih diidentikkan dengan hubungan antara dua orang yang sedang kasmaran. Padahal cinta kan gak sesempit itu. Cinta itu universal sekali. Kasih sayang seorang ibu pada anaknya juga wujud dari cinta kan?
Ngomong-ngomong soal puisi cinta nih, dari dulu waktu SMA saat pertama kali mendapat puisi ini sampai sekarang bahkan sampai hidup saya berakhir kayaknya, saya sukaaaaaaa sekali dengan puisi SJD (Sapardi Djoko Darmono, I mean) Aku Ingin. Saya rasa Anda yang sebentar lagi akan membaca puisi ini, pasti akan memiliki perasaan yang sama dengan saya. Okay, check this one.
Aku Ingin – by SJD
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Indah ya? Hanya 6 larik saja. Tapi maknanya sangat dalam. Melebihi senandung cinta yang sering wara-wiri di TV. Betapa cerdasnya SJD yang bisa menggambarkan perasaan cintanya hanya dalam 6 larik saja. What a beautiful poem! Tak hanya puisi ini, boleh dibilang, saya sangat menyukai karya-karya SJD yang menyentuh dan bermakna.
Lho kok malah jadi ngomongin puisi yah?
Ah, gapapa. Bukannya tulisan saya ini diawali dengan sebuah syair juga? Ah, jadi ingat masa-masa dulu nih. Saya suka sekali dengan puisi plus deklamasinya juga. Makanya dulu waktu SMA jadi tertarik dengan teater, sayangnya latihan teater kami hanya bisa sampai beberapa kali. Kalo gak salah sampai latihan vokal.
O iya, mungkin ada di antara Anda yang pernah baca puisi Taufik Ismail yang Salju Putih? Saya lupa-lupa ingat. Saya pernah baca puisi itu di buku pelajaran Bahasa Indonesia waktu SMA dulu. Itu juga sekali. Lupa lagi. Saya ingat, saya juga suka puisi itu. Kalo gak salah cuma beberapa larik saja dan pernah dinyanyikan oleh Bimbo dulu. Duh, apa ya? Mm, harus cari lagi nih sepertinya.
Kalo, ada yang menemukan puisi Salju Putih it, bagi-bagi ya! Thanks…
COMMENTs