Ironi
Anda sudah baca Kompas hari ini? Halaman 62. Judul artikelnya Klub Eksklusif Kuasai Kekayaan Dunia.
Bagaimana reaksi Anda? Samakah reaksi Anda dengan saya?
Reaksi saya? Menangis. Bukan, bukan karena tulisan di artikel itu. Saya ikut menangis melihat dua gadis kecil yang berdarah-darah dan menangis. Mereka terpaksa harus menahan perihnya rasa sakit akibat serangan bom mobil yang melukai tubuh mereka.
Apa Anda juga menangis melihat foto di sebelah kanan atas itu?
Saya heran, entah berapa banyak lagi orang-orang tak berdosa yang akan jatuh demi sejumput ego seorang penguasa. Penguasa uang. Ya, uang. Dan tulisan Simon Saragih di Kompas halaman 62 itu buat saya hanya pelengkap saja.
Pelengkap yang ironis.
Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Tak jarang, yang kaya sering berpikir, semakin banyak saya memberi makin besar pemberian yang akan kembali ke saya. Tolong, tak bisakah mereka berpikir untuk sekedar memberi saja tanpa pengharapan berapa lipat yang akan kembali lagi ke mereka?
Kerelaan.
Bersiaplah. Karena nanti Anda akan makin sering disuguhi ironi-ironi semacam ini. Kita manusia memang tak ada puasnya.

COMMENTs