Archive

Archive for May, 2009

OLEH-OLEH DARI TROWULAN – MOJOKERTO

May 24, 2009 asaria Leave a comment

Beberapa foto saat saya jalan (dan kerja, tentunya) ke Trowulan – Mojokerto sekitar Maret 2009 lalu. Dari penginapan di jalan Pahlawan, saya naik len ke terminal Mojokerto lalu melanjutkan dengan len lagi ke Trowulan. Untuk menyusuri situs-situs Mojopahit, mulai dari pendopo hingga Siti Inggil, saya menyewa becak (diantar abangnya juga).

Tempat-tempat yang saya kunjungi mulai dari Kolam Segaran, Pendopo, Candi Kedaton, Makam Kubro, Candi Bojang Ratu, Candi Gentong, Candi Brahu, Siti Inggil, dan Candi Lawang. Kesan saya selama perjalanan, nuansa mistisnya terasa sekali. Selalu ada sesajen di setiap situs yang saya singgahi. Apalagi, sewaktu di Makam Siti Inggil.

candi bojang ratu

candi bojang ratu

Siti Inggil

Siti Inggil

Sapu Jagad - Sapu Angin

Sapu Jagad - Sapu Angin

Categories: Travel

THE SECRET LIFE OF BEES

May 23, 2009 asaria Leave a comment

Bageuuusssss.

Komentar pertama yang melompat dari benak saya setelah menonton film yang diangkat dari novel Sue Monk Kidd ini. Memang, apapun filmnya, kalau yang melakoninya si talented girl Dakota Fanning, filmnya jadi top markotop. Dua jempol buat akting Fanning.

The Secret Life of Bees (SLB) mengangkat kisah seorang anak, Lily Owens (Fanning), yang berusaha mengumpulkan serpihan memori tentang ibunya. Memori terakhir yang direkam Lily hanya sepenggal pertengkaran antara ibunya, Deborah, dan sang ayah, T-Ray.

ADA APA DENGAN KITA?

May 15, 2009 asaria Leave a comment

Saya menulis post ini karena makin lama saya semakin heran, ada apa dengan kita?

Pertama,
Jalan Ciledug Raya yang saya lewati tiap kali berangkat dan pulang kantor, sangat sangat macet. Paling heran, mulai dari Kreo (kalau Kreo memang tidak mengherankan jika macet setiap pagi) hingga Bates. Motor-motor saja tersendat, apalagi mobil. Ternyata setelah berhasil melewati pangkal macet, saya jadi tahu kalau penyebabnya ternyata sebuah bus PATAS yang sedang ngetem di ujung pertigaan, di depan rumah makan (kalau Anda langganan Ciledug Raya seperti saya, pasti hafal, kalau tidak salah nama jalannya Pesanggrahan, silahkan dikoreksi jika salah). Nah, sementara di sisi kanan jalan, beberapa mobil pribadi dan angkot ngotot membelok dari arah yang berlawanan. Hm,… alhasil, trotoar jadi alternative terutama bagi pengendara sepeda motor. Alamak…. pasti bagi Sahabat yang tinggal di Jakarta atau daerah satelit Jakarta tak asing dengan kejadian seperti ini. Betul kan?

Aneh ya, terkadang kita memenuhi keinginan kita tanpa memperhitungkan apakah ada orang lain yang terimbas akibatnya atau tidak. Sangat permisif dengan diri sendiri, meski ada orang lain yang dirugikan. Ya, seperti kasus kendaraan umum yang sering berhenti tiba-tiba padahal ada banyak kendaraan lain di belakangnya, tidak memberi tanda dengan lampu sign lagi. Ckckck,… atau perilaku kita, ya saya juga sering ngotot-an kalau bawa motor termasuk ngembat trotoar yang nyata-nyata hak para pejalan kaki, yang tidak mau kalah saat berkendara. Kalau masih bisa nyalip dan maju duluan, mengapa memberi pengendara lain jalan? Toh, kita sama-sama terjebak macet kan? Kenapa ya? Kok kita begitu ya?

Kedua,
Kejadian yang beberapa kali dialami Sahabat saya. Beberapa kali dia berinisiatif membawa jajanan dari rumah dan menjualnya di tempat kerja. Hasilnya? Alhamdulillah, jajanan yang dia bawa banyak yang laku. Tapi, alih-alih untung, dia malah sering nombok tuh. Alasannya, uangnya gak ketemu. Barang habis, uangnya tak ada. Atau, jumlahnya tak sebanding dengan hasil penjualan yang seharusnya. Sahabat saya sih, emoh ngomel-ngomel. Sederhana, “Memangnya ngomel-ngomel bakal ngebalikin duit gw yang raib apa? Temen-temen gw ntar yang bales ngomel karena ngerasa tertuduh”, ujarnya. Toh, pengalaman ini bukan kali pertama bagi dirinya. Dulu waktu masih tinggal di asrama dia juga sering mengalami kejadian serupa. Barang habis, uang tak tampak. Paling radikal lagi, cerita sahabat saya, sebelum makan siang dia menghitung jumlah uang hasil penjualan jajanannya sekitar 30 ribuan, eh tahu-tahu sebelum pulang sewaktu dia mengambil uangnya, tersisa 15 ribuan saja. Loh? Ono opo iki? Kok iso? Weleh-weleh…

Saya hanya kasihan pada siapa pun yang mengambil uang itu (asumsikan uang itu diambil orang lain). Kok mau dia menafkahi tubuhnya dengan harta yang jelas-jelas bukan hak-nya. Dan tentu saja, dalam agama yang saya yakini, hukumnya haram.

Pertanyaan saya lagi, ada apa dengan kita? Mengapa kita sering begitu mudah melanggar dan mengabaikan hak orang lain demi hak kita sendiri terpenuhi?

….more than just my 2 cents…

Categories: Shout It Out