Home > Shout It Out > ADA APA DENGAN KITA?

ADA APA DENGAN KITA?

Saya menulis post ini karena makin lama saya semakin heran, ada apa dengan kita?

Pertama,
Jalan Ciledug Raya yang saya lewati tiap kali berangkat dan pulang kantor, sangat sangat macet. Paling heran, mulai dari Kreo (kalau Kreo memang tidak mengherankan jika macet setiap pagi) hingga Bates. Motor-motor saja tersendat, apalagi mobil. Ternyata setelah berhasil melewati pangkal macet, saya jadi tahu kalau penyebabnya ternyata sebuah bus PATAS yang sedang ngetem di ujung pertigaan, di depan rumah makan (kalau Anda langganan Ciledug Raya seperti saya, pasti hafal, kalau tidak salah nama jalannya Pesanggrahan, silahkan dikoreksi jika salah). Nah, sementara di sisi kanan jalan, beberapa mobil pribadi dan angkot ngotot membelok dari arah yang berlawanan. Hm,… alhasil, trotoar jadi alternative terutama bagi pengendara sepeda motor. Alamak…. pasti bagi Sahabat yang tinggal di Jakarta atau daerah satelit Jakarta tak asing dengan kejadian seperti ini. Betul kan?

Aneh ya, terkadang kita memenuhi keinginan kita tanpa memperhitungkan apakah ada orang lain yang terimbas akibatnya atau tidak. Sangat permisif dengan diri sendiri, meski ada orang lain yang dirugikan. Ya, seperti kasus kendaraan umum yang sering berhenti tiba-tiba padahal ada banyak kendaraan lain di belakangnya, tidak memberi tanda dengan lampu sign lagi. Ckckck,… atau perilaku kita, ya saya juga sering ngotot-an kalau bawa motor termasuk ngembat trotoar yang nyata-nyata hak para pejalan kaki, yang tidak mau kalah saat berkendara. Kalau masih bisa nyalip dan maju duluan, mengapa memberi pengendara lain jalan? Toh, kita sama-sama terjebak macet kan? Kenapa ya? Kok kita begitu ya?

Kedua,
Kejadian yang beberapa kali dialami Sahabat saya. Beberapa kali dia berinisiatif membawa jajanan dari rumah dan menjualnya di tempat kerja. Hasilnya? Alhamdulillah, jajanan yang dia bawa banyak yang laku. Tapi, alih-alih untung, dia malah sering nombok tuh. Alasannya, uangnya gak ketemu. Barang habis, uangnya tak ada. Atau, jumlahnya tak sebanding dengan hasil penjualan yang seharusnya. Sahabat saya sih, emoh ngomel-ngomel. Sederhana, “Memangnya ngomel-ngomel bakal ngebalikin duit gw yang raib apa? Temen-temen gw ntar yang bales ngomel karena ngerasa tertuduh”, ujarnya. Toh, pengalaman ini bukan kali pertama bagi dirinya. Dulu waktu masih tinggal di asrama dia juga sering mengalami kejadian serupa. Barang habis, uang tak tampak. Paling radikal lagi, cerita sahabat saya, sebelum makan siang dia menghitung jumlah uang hasil penjualan jajanannya sekitar 30 ribuan, eh tahu-tahu sebelum pulang sewaktu dia mengambil uangnya, tersisa 15 ribuan saja. Loh? Ono opo iki? Kok iso? Weleh-weleh…

Saya hanya kasihan pada siapa pun yang mengambil uang itu (asumsikan uang itu diambil orang lain). Kok mau dia menafkahi tubuhnya dengan harta yang jelas-jelas bukan hak-nya. Dan tentu saja, dalam agama yang saya yakini, hukumnya haram.

Pertanyaan saya lagi, ada apa dengan kita? Mengapa kita sering begitu mudah melanggar dan mengabaikan hak orang lain demi hak kita sendiri terpenuhi?

….more than just my 2 cents…

Categories: Shout It Out
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.