ESIA oh ESIA
Pernah pakai HP Esia? Punya pengalaman ‘tidak nyaman’ dengan HP ini?
Saya, pernah. Karena itu saya menulis tulisan ini, karena saya kecewa setelah membeli HP Esia Hidayah Plus seminggu yang lalu. HP Esia yang saya beli hanya bertahan hidup normal beberapa jam saja. Sejak pertama kali pelayan toko men-start-up hingga baterainya habis lalu mati. Meskipun sudah di-charge selama 8 jam dalam kondisi HP mati (katanya, rekomendasi untuk charge pertama kali), HP Esia yang saya beli tak berumur lama. Hidup segan mati pun tak mau. Di restart lalu muncul flash Esia beberapa kali dan mati. Selalu begitu. Usaha terbaik yang berhasil saya peroleh, bisa masuk ke aplikasi setelah flash Esia muncul saat di restart dan bisa di pakai menelepon selam kurang dari 5 menit, lalu mati lagi. Sisanya? Muncul tulisan application error.
Berhubung saya membeli HP itu sehari sebelum takbiran, saya baru bisa komplain ke toko penjualnya, setelah lebaran. Pelayan toko, membantu dengan mengetes baterai HP, menukar baterai HP Esia yang saya beli dengan baterai lain. Hasilnya? Nihil. Flash Esia selalu muncul saat restart. Lalu, saya minta pelayan mengganti UIM di HP Esia saya dengan UIM Esia lain, takutnya UIM-nya gagal dibaca. Hasilnya? Juga nihil. What next? Dengan halus, pelayan toko menyarankan saya ke Huawei service center di Roxy (Maaf Mas, Roxy itu sangat jauh dari tempat saya di Ciledug, kenapa gak ke Esia Center saja?)
dan bilang kalau catatan penjualan HP saya sudah masuk ke management, jadi HP saya gak bisa ditukar dengan HP lain (Memangnya kalau catatan penjualannya belum masuk bisa ditukar ya? Kok saya sangsi yah?)
Terus terang, saya sangat heran sekali, kenapa HP Esia yang baru saya beli hanya bertahan beberapa jam saja? Barang baru loh itu. Baru beli, baru dibuka dari box, baru direstart, baru dipakai nelpon sekali, dan mati, sampai sekarang. Kok bisa?
Ya sih, kalau dilihat harganya memang murah. Yah, jangan berharap produk dengan kualitas bagus dengan harga murah. Tapi, hei, feature Esia Hidayah Plus itu menggoda loh… Walaupun saya lagi-lagi harus kecewa karena featurenya gak gratis ternyata. Harus di download juga. It means, butuh pulsa juga untuk akses internetnya. Dan saya, yang penganut paham emoh-pakai-CDMA-apalagi-HP-buatan-Cina ini akhirnya tergoda juga. Mana teman-teman sekeliling pakai Esia lagi. Lumayan irit uang buat beli pulsa kan kalau sesama provider.
Cuma, ya itu, hasilnya kecewa.
Saya mungkin tidak akan terlalu kecewa, jika seandainya saya bisa mendapat solusi dan penanganan di Esia Center, gerai Esia, apa sih namanya? Cuma kok saya musti ke Huawei Service Center yang jauh di ujung sana ya? Kemarin saya ke Esia Center yang di CBD Ciledug, belum juga sempat ngomong dengan mbak-mbak pelayannya, saya langsung balik kanan dan keluar. Bapak yang sedang dilayani mbak itu juga punya pertanyaan yang sama ternyata. Kok harus ke Huawei Service Center, kan jauh. Dengan ringan, mbaknya menjawab, “Kita hanya menangani kalau ada masalah dari sisi kartunya saja Pak.” Saat itu, saya langsung ingin nyolot dengan, “Mbak di HP ini merk di depannya Esia loh bukan Huawei.”
Alangkah lebih nyaman dan mudahnya, misalkan jika customer Esia lain yang menghadapi permasalahan yang sama seperti saya bisa mendapatkan penanganan yang cepat di Esia Center. Tidak harus ke Service Center produsen HP-nya, karena toh gerai Esia atau Esia Center, apapun namanya, lebih gampang ditemui daripada Service Center produsen HP-nya tho? Saya yakin, pasti akan lebih banyak orang yang tertarik memakai Esia, karena after sale service-nya bagus. Customer jadi merasa punya ‘teman’ saat ada masalah dengan kartu dan HP Esia mereka. Dari sisi Esia, yah setidaknya membantu ‘mengantarkan’ HP Esia yang bermasalah ke Service Center produsen HP-nya. Hitung-hitung pelayanan ekstra ke customer kan? Customer yang puas pasti nanti akan menyebarkan kepuasan mereka dari mulut ke mulut dan bukan tidak mungkin akan menggaet lebih banyak customer baru.
Finally, bagaimana nasib HP saya? Teronggok di sudut kamar. Mungkin cukup sekali ini saja saya mencoba Esia. Atau mungkin lain kali saya cukup beli kertu perdana saja dan beli HP CDMA yang lebih ‘jelas’ kualitasnya.

COMMENTs