Javatrip 25 Des ’09 – 3 Jan ’10
Kesampaian juga keinginan saya untuk ke Bromo dan Bali, sempat ke Dieng dan Malang malah.
Awalnya, saya hanya ingin ke Bromo, dan itu pun bareng rombongan tour dari milis Tamasya. Rombongan ini berangkat dari Jakarta tanggal 28 Des ’09 dan kembali lagi tanggal 3 Jan ’10. Saya pikir, sayang juga, karena tanggal 24 Des kantor sudah libur, jadi kenapa harus menunggu tanggal 28? Saya pun akhirnya nekat solo backpack.
Pulang dari tugas di Suralaya tanggal 23 Des malam, saya mulai menentukan rute perjalanan. Tujuan utama saya adalah Bromo. Saya pun ingat, dulu waktu melewati Wonosobo sepulang dari tour ke Jogja, saya pernah punya keinginan untuk stay di kota ini lebih lama. Okay, lets put Wonosobo in my list. Aha, di Wonosobo kan ada Dieng, dan Baturaden juga di dekat sana. Baiklah, saya akan ke Baturaden-Dieng-Bromo, berangkat tanggal 25 Des dari Jakarta dan kembali lagi tanggal 30 Des, jadi tanggal 31 Des saya bisa hadir di pernikahan sahabat di Cilegon.
Hari 1 – 25 Des ’09
Sekitar jam 11 siang, saya meluncur ke pool bus Rosalia di dekat rumah, mencari tiket bus ke Wonosobo. Sayang, tak ada trayek ke Wonosobo di Rosalia. Benar juga kata Mas Lathi, hanya ada beberapa bus yang melayani trayek Jakarta-Wonosobo, seperti Malino Putra, DMI, dll.
Bingung, saya pun mengarahkan kaki ke Lebak Bulus. Aha, benar ternyata, ada bus ke Wonosobo di sini. Saya pun langsung beli tiket di loket bus Malino Putra. Cring, Rp. 81.000,- untuk satu seat AC bisnis. Tapi,,,, saya harus bersabar selama 4 jam. Lah, saya datang ke terminal jam 1 siang, busnya berangkat jam 5 sore. Wadoh, mau menghabiskan waktu di mana ini? Kalau pulang dulu juga, rasanya nanggung. Hufh. Untungnya, di dekat Lebak Bulus ada POINS Square. Lumayan, toh saya juga belum pernah main ke sana. Baiklah, mari makan siang dan mendinginkan badan sejenak di POINS Square.
Jam 16.00 saya kembali lagi ke LB, siap sedia di dekat bus. Tapi, masih belum ada tanda-tanda bus akan berangkat sama sekali. Tunggu punya tunggu, jam 17.00 sopir dan kenek bus mulai membuka pintu. Masih belum ada penumpang lain. Jam 17.15, penumpang mulai nongol satu per satu. Jam 18.15, bus lepas landas dari LB. Finally.
Hari 2 – 26 Des ’09
Sekitar jam 03.00 dini hari, bus sampai di Purwokerto. Wah, kalau saya nekat ke Baturaden berarti saya harus turun di Purwokerto. Jam segini? Wadoh. Saya kan sendirian, cewek pula. Nenteng-nenteng 2 backpack lagi. Hmmm… maaf yah Baturaden, lain kali aja saya ke sini lagi.
Jam 06.00 saya sampai di Terminal Mandala Wonosobo. Naik ojek Rp.10.000,- ke tempat ngetem elf biru ke Dieng. Jam 08.00 saya sampai di Dieng. Untung, sebelum berangkat sempat browsing-browsing dulu, jadi meski tidak sempat booking penginapan, setidaknya saya punya pegangan kontak person yang bisa saya hubungi untuk cari penginapan selama di Dieng.
Berbekal ilmu dari Mas Lathi, saya minta diturunkan di depan Penginapan Lestari pada sopir elf. Begitu sampai, saya langsung cari Pak Yatno, pemilik penginapan. Pak Yatno kaget juga melihat saya datang pagi-pagi, sendiri pula. Alhamdulillah, ada tamu yang akan check out pagi itu, jadi ada 1 room kosong yang available buat saya, cukup Rp. 75.000,- saja per kamar/malam. Sambil menunggu room saya siap, saya tanya-tanya Pak Yatno, kira-kira spot apa saja yang bisa saya eksplore selama di Dieng. Pak Yatno pun menawarkan ojek (baca: Pak Toha) untuk jadi guide saya. Cukup Rp. 100 ribu per hari. Bungkus. (Pada kenyataannya, Pak Toha tidak hanya merangkap sebagai guide, tapi juga fotografer dadakan saya. Haha.)
Jam 10.00, saya ditemani Pak Toha mulai meluncur ke Telaga Warna, target pertama untuk dikunjungi di Dieng. Sampai di Telaga Warna, saya kebingungan. Kok bisa-bisanya yah, disebut Telaga Warna. Airnya cuma berwarna hijau. Saya pikir kayak di uang rupiah dulu itu loh, ada beberapa telaga dengan warna yang berbeda-beda. Ternyata, kecele euy.
Dari Telaga Warna, saya dan Pak Toha mulai mengeksplor kawasan di sekitarnya. Ada Goa Semar, Prasasti Batu Tulis, Gua Jaran, dan Gua Sumur. Sayang, gak bisa masuk ke dalam gua, harus ada juru kuncinya. Jadi, ya… cukup gaya-gayaan saja di mulut gua. Narsis!
Lepas dari Telaga Warna, Pak Toha mengajak saya ke Candi Bima dan Kawah Sikidang. Hmm, tak ada istimewa dari Candi Bima. Sampai di Kawah Sikidang, saya langsung disambut oleh sederetan toko yang menjual souvenir khas Dieng seperti edelweis beraneka warn dan keripik kentang. Keluar dari deretan toko yang penjualnya tak henti memanggil kita untuk singgah sejenak dan melihat-lihat dagangan mereka, kita akan disambut oleh sekelompok pengamen dengan alat musik khas Jawa. Bisa request musik loh. Setelah melewati para pengamen ini, baru lah kita akan sampai ke Kawah Sikidang.
- Telaga Warna
- Kawah Sikidang
- Candi Puntadewa
- Candi ??? (*lupa*)
- Sunrise @ Gn. Sikunir
- Dini – Cah Gembel







[...] 13, 2010 asaria Leave a comment Go to comments Awal tahun ini, saya dengan puas mencoreti Bromo dan Bali dari Bucket List ‘24 yang saya buat saat ulang tahun ke 24 di pertengahan Mei 2009 lalu. Yup, [...]
CORET BUCKET LISTMU SEKARANG! « the ASARIA
January 13, 2010 at 5:34 pm
[...] tidak, buku ini baru ’sempat’ dibaca setelah pulang dari backpack singkat saya di awal tahun. Padahal buku ini saya beli 24 Des 2009, 2-3 minggu sebelumnya. [...]
PERAHU KERTAS « the ASARIA
January 19, 2010 at 5:44 pm
bagus ceritanya…thanks atas infonya .. . . .
sakinahnurhidayah
May 3, 2010 at 7:41 pm
iya, tapi ini belum ditulis semua ceritanya..
pengalaman yang ke malang – bromo – dan balinya masih kesimpen di otak
asaria
May 4, 2010 at 12:53 pm
Salam kenal
Wah mana nih seri lanjutannya …. biar bisa ditiru juga …
WP24
October 19, 2010 at 3:29 pm
hehe.. sudah setahun berlalu.. masih ingat gak ya…?
asaria
October 25, 2010 at 3:45 am