KOK MACET?
Jakarta macet? Bukan hal aneh tentunya. Malah bukan Jakarta namanya kalau gak macet.
Saya seringkali mengibaratkan kendaraan yang lalu-lalang di jalan seperti laju aliran. Selayaknya air, contohnya, air akan terus mengalir jika tidak ada yang menghalangi alirannya. Begitu pula laju kendaraan di jalan. Jika lajunya terhalangi, otomatis, alirannya akan terhenti dan tentu saja akibatnya terjadilah kemacetan.
Tapi, kok bisa macet yah? Apa benar karena jumlah kendaraan yang turun ke jalan sudah tidak sebanding lagi dengan luas ruas jalan yang tersedia?
Terus terang, saya sendiri pun tidak pernah tahu berapa perbandingan ruas jalan di Jakarta dengan volume kendaraan yang melaju di jalanan. Cuma, pikiran sederhana saya berpikir, toh kalo memang perbandingannya mpot-mpot-an, asalkan aliran kendaraan tak terhenti, gak akan macet kan?
Lalu, kenapa Jakarta bisa macet? Berikut beberapa faktor yang menurut saya menjadi penyebab macetnya jalanan ibukota. Anda juga bisa ikut menambahkan daftar yang saya buat dan yuk kita cari solusinya bersama-sama.
1. Lampu merah. Bangjo istilah teman saya yang asli Surabaya.
2. Kendaraan yang berhenti sembarangan, terutama angkot dan bis (metromini, kopaja, en the gank saya golongkan ke kategori ini). Coba perhatikan, pasti Anda sering menemui bis yang seenaknya menurunkan penumpang di tengah jalan. Tanpa ngasih tanda dengan lampu sign lagi. Tambah parah, kalau bi situ seenaknya menurunkan seluruh penumpangnya dijalan dan mengopernya ke bis lain. Alamak.
3. Pasar. Tahu kan kenapa di Kebayoran Lama sangat macet setiap hari? Apalagi pagi hari. Yup, jawabnya karena ada pasar. Para pedagang tumpah ke jalan, memakan hampir separuh badan jalan.
4. Persimpangan. Coba Anda perhatikan, rata-rata daerah persimpangan cenderung lebih macet daripada sudut jalan lainnya. Contohnya, di Jalan Ciledug RAya. Lihat saja Kreo. Di persimpangan ada pasar, di depannya sekolah dan angkot mengetem di mana-mana belum lagi arus kendaraan dari arah Cipadu berebut tempat dengan kendaraan lainnya di jalan Ciledug Raya ini. Contoh sangat sempurna.
5. Hujan. Fenomena ini nih yang sampai sekarang masih tidak saya mengerti. Kok bisa ya, kalau lagi hujan, ataupun setelah hujan lalu lintas rata-rata tersendat? Apa seluruh kendaraan melambatkan diri?
6. Banjir dan genangan air. Bisa jadi ini jawaban dari poin 4 di atas. Pastinya, kalau banjir, macet adalah mutlak.
Hmm, apalagi ya? Ada punya tabungan pengamatan lain? Atau punya solusi untuk membantu menanggulangi masalah kemacetan yang makin lama makin mengakar ini?
-untuk hidup yang lebih baik-

COMMENTs