Archive

Archive for the ‘Mengapa Begitu?’ Category

AURORA ITU APA SIH?

September 30, 2009 asaria Leave a comment

I’m a big fan of aurora!

Aurora Borealis

Aurora Borealis


Aurora Australis

Aurora Australis

Kita yang tinggal di daerah khatuliswa seperti Indonesia, mungkin tidak akan pernah menyaksikan fenomena alam yang satu ini, di mana tampak pendaran cahaya di langit utara dan selatan Bumi. Fenomena menakjubkan ini disebabkan karena interaksi antara partikel bermuatan yang dilepaskan oleh matahari terhadap Bumi.

MENGAPA AIR LAUT ASIN?

April 14, 2009 asaria Leave a comment

Saya yakin, kita semua pasti tahu kalau air laut itu asin. Tapi, kenapa ya? Terus pasti akan ada pertanyaan lainnya. Kok ikan tidak asin ya?

Laut adalah tempat bermuaranya sungai-sungai. Sungai yang berakhir di laut membawa, sedimen hasil erosi yang mengandung berbagai macam mineral yang pada akhirnya menumpuk di lautan. Selain karena kandungan mineral yang terbawa aliran sungai, penguapan air laut di siang hari dan pelapukan bebatuan di pantai atau dasar laut juga turut andil dalam peningkatan kadar garam di lautan.

Pada proses penguapan (evaporasi), air laut menguap dan menyebabkan garam-garam mineralnya tertinggal. Akumulasi garam mineral inilah yang makin meningkatkan kadar keasinan air laut.

Ya, kurang lebih proses-proses di atas menjadi penyebab asinnya air laut yang selama ini hanya kita rasakan, tapi belum tentu tahu, apa penyebabnya.

Semoga bermanfaat.

Categories: Mengapa Begitu?

MENGAPA LANGIT BERWARNA BIRU?

August 15, 2007 asaria 12 comments

Anda termasuk jenis orang yang hobi memandang langit seperti saya? Jika iya, pernahkah sesekali terlintas di benak Anda, kenapa langit berwarna biru?

Tahukah Anda, sebenarnya langit tidaklah berwarna biru, melainkan terdiri dari warna yang berbeda-beda. Kadang abu-abu atau hitam (contoh langit malam), kadang merah atau emas (langit senja dan kala sunrise tentunya), tak jarang pula berwarna putih atau biru mengilat. Subhanallah.

Ternyata langit berwarna-warni juga ya. Nah pertanyaannya kemudian adalah kok bisa ya?

Langit berwarna hitam tentunya karena tidak ada matahari yang bersinar di malam hari. Sementara langit yang berwarna abu-abu menunjukkan terdapat banyak partikel debu sebagai akibat dari gas-gas kotor di udara. Contohnya, di kota-kota besar dan daerah pabrik (~jadi ingat kisah kupu-kupu abu-abu dan berwarna cerah waktu pelajaran biologi SMP dulu~).

Jika dilihat lagi, ternyata warna-warna langit ini sangat erat kaitannya dengan kedudukan bumi terhadap matahari serta tingkat kebersihan dan polusi udara di suatu tempat. Selain kedua faktor tersebut, ada satu faktor utama lagi yang menyebabkan warna-warni matahari in, yaitu sifat cahaya tampak. Ingat percobaan cahaya putih yang dilewatkan ke prisma kan? setelah dilewatkan oleh prisma cahaya tersebut terurai menjadi 7 warna: mejikuhibiniu. Ini salah satu percobaan yang bisa dilakukan untuk mengamati cahaya tampak. Nah, sama halnya dengan percobaan prisma ini, cahaya putih yang dipancarkan oleh matahari juga terdiri dari ketujuh warna tersebut. Mulai dari ungu yang memiliki panjang gelombang terpendek hingga cahaya merah dengan panjang gelombang terpanjang. Untuk lebih detail, kedudukan warna-warna ini terhadap panjang gelombang dan tingkat energinya dapat dilihat digambar spektrum cahaya berikut.

Gambar 1. Percobaan Cahaya Tampak

Gambar 2. Spektrum Energi dan Cahaya Tampak

 O iya, dalam fisika energi dapat didefisinikan sebagai kostantaPlanck h dikalikan dengan frekuensi. Jika dari gambar di atas kita dapat menyimpulkan bahwa panjang gelombang lambda  berbanding terbalik dengan frekuensi v, maka energi akan besar jika panjang gelombang mengecil. Mmm, berarti cahaya ungu atau biru memiliki energi yang lebih besar dibandingkan cahaya merah. Nah, makanya kita mengenal istilah Si Api Biru. Api yang berwarna biru jauh lebih ‘tajam’ dari pada api yang berwarna merah. Aha.

Kembali lagi ke permasalahan matahari. Untuk sampai ke Bumi, cahaya putih matahari haruslah melewati atmosfer atau lapisan udara disekeliling Bumi. Atmosfer merupakan sederetan gas (seperti Oksigen, Nitrogen, dan Karbondioksida yang dibutuhkan terutama dalam proses pernapasan makhluk hidup), partikel air, serta debu. Cahaya putih matahari melewati campuran ini (~ingat percobaaan senter yang dipancarkan ke sebuah gelas berisi air keruh~)  dengan lintasan yang berbeda-beda. Akibat tumbukan antara partikel cahaya (foton) dan partikel penyusun campuran udara di atmosfer inilah kita melihat langit dalam aneka warna tadi. Cahaya yang terurai akan mengalami pengurangan energi akibat proses tumbukan dengan partikel dan mempengaruhi kekuatan pancaran cahaya sampai di Bumi.

Menurut Lord John William Rayleigh, langit biru disebabkan karena cahaya biru dan hijaulah yang paling kuat dipancarkan oleh matahari. Warna biru ini kemudian tertangkap oleh mata kita, sehingga kita mengatakan langit tersebut biru. Begitu pula halnya pada senja hari. Langit cenderung berwarna merah karena cahaya merah dengan panjang gelombang terpanjanglah yang mampu menempuh perjalanan Matahari-Bumi.

Bagaimana sih cara mengukur panjang gelombang ini? Sederhana saja. Panjang gelombang dapat diukur dengan mengalikan jarak tempuh dengan 2. Lho, berarti panjang gelombang ini, jarak bolak-balik sebuah gelombang menempuh jarak tertentu donk? Yup.

Wah, ternyata fisika itu menyenangkan ya? Don’t u think so?

 

 

Categories: Mengapa Begitu?