Archive

Archive for the ‘Road to My Dreams’ Category

Gracias, Amigo!

October 26, 2007 asaria 4 comments

Alhamdulillah, besok DIWISUDA…. Hore… Senangnya…. :-)

Satu lagi impian saya tercapai. Diwisuda tanggal 27 Oktober 2007. Memang target IP tidak sesuai dengan yang saya harapkan, no matter, yang penting, saya wisuda besok. Impian orang tua pun melihat anaknya wisuda besok, terwujud.

Sayang, nenek yang saya harapkan hadir saat saya wisuda besok, tidak dapat haidr. Penerbangan dari Padang ditunda menjadi hari Senin, dua hari setelah saya diwisuda. Ah, gak apa-apa. Masih ada Mama dan Abang. Hm, saya yakin, beliau pun bahagia.

Ah, akhirnya. Satu perjuangan selesai. Masih ada hari panjang di depan mata yang membutuhkan perjuangan lebih. Welcome to the real world. Sejauh mana saya bisa berbakti kepada masyarakat, itulah definisi yang sebenarnya. Setidaknya itu yang saya dapat dari menonton drama Korea Kkwangi atau Madness waktu SMA dulu.

Saatnya, untuk berdiri di atas kaki sendiri. Melanjutkan perjuangan hidup yang belum usai.

Sahabat-sahabatku, terima kasih ya atas dukungannya selama ini. Saya bisa wisuda besok juga berkat motivasi dan doa kalian semua. Semoga kalian pun meraih apa yang diimpikan. Karena kekuatan impian dan cintalah yang melabuhkan Ikal dan Arai di Sorbonne University. Hue he he… Andrea Hirata banget gak sih.

Iya, thanks to Andrea. Ketiga buku dari tetralogy Laskar Pelangi-nya telah membakar api semangat dalam diri saya. Jika Ikal dan Arai yang anak pedalaman Belitong nan jauh terpencil di ujung negeri sana bisa mencapai impian mereka, kenapa saya yang bernasib jauh lebih baik tidak? Saya yakin, insyaAllah seperti mereka yang bisa menginjakkan kaki di Prancis dan menjelajahi 42 negara Eropa, saya pun bisa menginjakkan kaki saya di Finlandia. Mengukir kisah perjalanan saya sendiri, menemukan my own Edensor.

Memodifikasi sedikit kata-kata Arai, saya yakin Tuhan pun telah memeluk mimpi-mimpi saya dan menunggu. Tugas saya adalah, berjuang mewujudkannya. Last, thanks juga buat M. Maulana Syuhada dengan 40 Days in Europe-nya yang tak kalah menginspirasi serta Enyd Blyton dengan serial Malory Towers-nya yang telah menghidupkan imajinasi saya saat tinggal di asrama putri Kanayakan.

Gracias, Amigo!

Categories: Road to My Dreams

FREE to be me?

September 1, 2007 asaria 4 comments

Apa kabar? Cukup lama juga ternyata ya, saya tidak meng-update blog liliput ini. Bukan, bukan karena sibuk. Saya lagi kucing-kucingan nih dengan pembimbing. Lho apa hubungannya dengan blog? Ya iya donk. Sebagai seorang mahasiswa, internet is a must! The problem is, gimana biar bisa punya akses tak terbatas tapi murah. Nah lho, gimana coba. Gampang, ngenet di kampus aja. Bayar AI3 sepuluh ribu rupiah per bulan dan viola…. u get it! Terus, apa hubungannya dengan pembimbing? Nah itu, saya biasa ngenet dari lab dan tahu gak lab itu tempatnya di dekat ruangan pembimbing saya. Nah, kalo saya lewat sana terus kelihatan ama beliau, terus ditagih, “BAB 4 dan 5 mu mana?” Apa kata dunia? Halah, kok bawa-bawa dunia segala ya? Makanya, daripada ditagih padahal belum selesai, mending ngumpet aja di rumah sambil ngeberesin. Tul gak?

FREE to be me?

Iya, itu nama baru buat blog saya. Dulunya My Share. Terus kok diganti? Maksudnya? Gak, gak ada maksud apa-apa tuh. He he, bo’ong banget yah kalo saya bilang gak ada maksud apa-apa. Hm, ya iyalah ada maksudnya.

FREE to be me! (~nulisnya harus gini~). Yup, benar blog ini adalah sebuah langkah bagi saya untuk kembali berusaha menjadi diri sendiri. Terdengar egois ya?

…..

Saya lupa mau nulis apa (~garuk-garuk kepala~).

….

BERHENTI MENYERAH

August 10, 2007 asaria Leave a comment

Pagi ini saya tertegun memandang sebuah amplop yang saya genggam. Di sudut amplop itu tertulis, “Untuk Ichee. Semangat ya, Dek!” Di bawah tulisan itu tertulis, Bunda Fatih. Saya heran, kapan amplop ini dimasukkan ke tas saya?

Tes tes. Tak terasa air mata saya jatuh. Teringat kejadian beberapa hari lalu. Ketika saya dikagetkan oleh kehadiran seseorang sewaktu memasuki kamar. Orang tersebut biasa saya sebut Mbae Terbaik di Dunia. Seorang kakak yang saya kenal empat tahun lalu di kost-an pertama di Bandung. Saya malu, sebagai adik, saya-lah yang seharusnya mengunjungi Mbae duluan.

Mbae hanyalah jalan dari Allah untuk mengabulkan permintaan saya. Beberapa minggu terakhir, saya sering memohon, “Allah mudahkan urusan hamba dan berikan hamba kejernihan berpikir serta jauhkan hamba dari kemalasan, sehingga tugas akhir hamba bisa selesai tanggal 10 Agustus ini ya Rabb. Agar hamba bisa membahagiakan orang tua dengan melihat anaknya diwisuda.”

Sebenarnya minggu ini adalah minggu terberat buat saya. Sebentar lagi, tugas akhir tersebut harus dikumpulkan sementara software yang saya buat masih error di mana-mana, belum lagi ada program yang tak ter-save dengan baik sewaktu di-close. Saya merasa tertekan. Terlebih seorang teman yang selama ini saya andalkan untuk membantu uring-uringan karena sebuah kesalahan yang telah saya lakukan. Huff. Saya hanya bisa menangis. Harapan lulus Oktober, buyar. Saya memutuskan untuk menyerah. Saya pun jadi malas-malasan mengerjakan tugas akhir. Padahal saya sudah berjanji pada orang tua dan beberapa teman kalau saya akan lulus Oktober ini. Saya malu.
Alhamdulillah, Allah memberi jalan. Setidaknya, menangis dan mengadu kepada Allah terutama di sepertiga malam membuat beban saya perlahan berkurang. Perlahan hati saya menjadi plong. Saya pasrah. Saya hanya bisa bertaubat karena telah berharap pada makhluk-Nya. Padahal tiada daya dan upaya melainkan Dia semata. Allah-lah penggenggam diri kita.

Allahu Akbar. Allah menggerakkan diri saya membaca sebuah postingan yang pernah saya tulis dulu. Postingan tentang sumber motivasi hakiki.  Di postingan itu juga terdapat beberapa comment dari sahabat-sahabat yang merasa termotivasi membaca postingan tersebut. Sekali lagi, saya malu. Malu pada diri sendiri. Saya-lah yang menulis tulisan itu, tapi kenapa justru orang lain termotivasi sementara saya tidak? What a bulshit!

Allahu Akbar. Maha Suci Allah. Allah membuka pikiran saya. Saya menyusun kembali rencana apa saja yang bisa saya lakukan. Saya merefleksi diri, kenapa saya belum berhasil? Kesalahan apa yang telah saya lakukan? Sejauh mana usaha saya selama ini?

Alhamdulillah, Allah lagi-lagi mengabulkan do’a saya dengan memberikan saya berbagai kemudahan. Hubungan dengan teman yang awalnya uring-uringan, menjadi baik. Bahkan Allah memudahkan urusan saya dengan teman lain yang siap membantu memperbaiki softwre yang saya buat. Tak hanya itu, Allah juga mempertemukan saya dengan orang-orang yang memacu saya untuk bisa menyelesaikan tugas akhir tersebut. Allah memompa saya dengan motivasi lain. Bayangan berkumpul kembali dengan orang tua setelah di wisuda, proyek dosen ke Bali plus bungee jumping, dan berbagai motivasi lain. Namun yang lebih utama dari itu semua, mensyukuri nikmat ilmu yang telah diberikan oleh Allah.

Dan nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang akan kamu dustakan?

Ya, Allah memang belum mengabulkan keinginan agar tugas akhir saya beres hari ini. Lebih dari itu Allah memberikan saya orang-orang yang selalu memotivasi sehingga saya bisa bangkit kembali. Pelajaran berharga yang tak akan saya dapatkan di training motivasi manapun.

Allah, betapa luas karunia-Mu. Engkau tak pernah berhenti memberikan nikmat-Mu di saat diri ini lengah. Ya ‘Alim, Ya Rasyid, cukuplah Engkau yang jadi penolongku.