Archive

Archive for the ‘Shout It Out’ Category

ESIA oh ESIA

September 25, 2009 asaria Leave a comment

Pernah pakai HP Esia? Punya pengalaman ‘tidak nyaman’ dengan HP ini?

Saya, pernah. Karena itu saya menulis tulisan ini, karena saya kecewa setelah membeli HP Esia Hidayah Plus seminggu yang lalu. HP Esia yang saya beli hanya bertahan hidup normal beberapa jam saja. Sejak pertama kali pelayan toko men-start-up hingga baterainya habis lalu mati. Meskipun sudah di-charge selama 8 jam dalam kondisi HP mati (katanya, rekomendasi untuk charge pertama kali), HP Esia yang saya beli tak berumur lama. Hidup segan mati pun tak mau. Di restart lalu muncul flash Esia beberapa kali dan mati. Selalu begitu. Usaha terbaik yang berhasil saya peroleh, bisa masuk ke aplikasi setelah flash Esia muncul saat di restart dan bisa di pakai menelepon selam kurang dari 5 menit, lalu mati lagi. Sisanya? Muncul tulisan application error.

Berhubung saya membeli HP itu sehari sebelum takbiran, saya baru bisa komplain ke toko penjualnya, setelah lebaran. Pelayan toko, membantu dengan mengetes baterai HP, menukar baterai HP Esia yang saya beli dengan baterai lain. Hasilnya? Nihil. Flash Esia selalu muncul saat restart. Lalu, saya minta pelayan mengganti UIM di HP Esia saya dengan UIM Esia lain, takutnya UIM-nya gagal dibaca. Hasilnya? Juga nihil. What next? Dengan halus, pelayan toko menyarankan saya ke Huawei service center di Roxy (Maaf Mas, Roxy itu sangat jauh dari tempat saya di Ciledug, kenapa gak ke Esia Center saja?)
dan bilang kalau catatan penjualan HP saya sudah masuk ke management, jadi HP saya gak bisa ditukar dengan HP lain (Memangnya kalau catatan penjualannya belum masuk bisa ditukar ya? Kok saya sangsi yah?)

Terus terang, saya sangat heran sekali, kenapa HP Esia yang baru saya beli hanya bertahan beberapa jam saja? Barang baru loh itu. Baru beli, baru dibuka dari box, baru direstart, baru dipakai nelpon sekali, dan mati, sampai sekarang. Kok bisa?

Ya sih, kalau dilihat harganya memang murah. Yah, jangan berharap produk dengan kualitas bagus dengan harga murah. Tapi, hei, feature Esia Hidayah Plus itu menggoda loh… Walaupun saya lagi-lagi harus kecewa karena featurenya gak gratis ternyata. Harus di download juga. It means, butuh pulsa juga untuk akses internetnya. Dan saya, yang penganut paham emoh-pakai-CDMA-apalagi-HP-buatan-Cina ini akhirnya tergoda juga. Mana teman-teman sekeliling pakai Esia lagi. Lumayan irit uang buat beli pulsa kan kalau sesama provider.

Cuma, ya itu, hasilnya kecewa.

Saya mungkin tidak akan terlalu kecewa, jika seandainya saya bisa mendapat solusi dan penanganan di Esia Center, gerai Esia, apa sih namanya? Cuma kok saya musti ke Huawei Service Center yang jauh di ujung sana ya? Kemarin saya ke Esia Center yang di CBD Ciledug, belum juga sempat ngomong dengan mbak-mbak pelayannya, saya langsung balik kanan dan keluar. Bapak yang sedang dilayani mbak itu juga punya pertanyaan yang sama ternyata. Kok harus ke Huawei Service Center, kan jauh. Dengan ringan, mbaknya menjawab, “Kita hanya menangani kalau ada masalah dari sisi kartunya saja Pak.” Saat itu, saya langsung ingin nyolot dengan, “Mbak di HP ini merk di depannya Esia loh bukan Huawei.”

Alangkah lebih nyaman dan mudahnya, misalkan jika customer Esia lain yang menghadapi permasalahan yang sama seperti saya bisa mendapatkan penanganan yang cepat di Esia Center. Tidak harus ke Service Center produsen HP-nya, karena toh gerai Esia atau Esia Center, apapun namanya, lebih gampang ditemui daripada Service Center produsen HP-nya tho? Saya yakin, pasti akan lebih banyak orang yang tertarik memakai Esia, karena after sale service-nya bagus. Customer jadi merasa punya ‘teman’ saat ada masalah dengan kartu dan HP Esia mereka. Dari sisi Esia, yah setidaknya membantu ‘mengantarkan’ HP Esia yang bermasalah ke Service Center produsen HP-nya. Hitung-hitung pelayanan ekstra ke customer kan? Customer yang puas pasti nanti akan menyebarkan kepuasan mereka dari mulut ke mulut dan bukan tidak mungkin akan menggaet lebih banyak customer baru.

Finally, bagaimana nasib HP saya? Teronggok di sudut kamar. Mungkin cukup sekali ini saja saya mencoba Esia. Atau mungkin lain kali saya cukup beli kertu perdana saja dan beli HP CDMA yang lebih ‘jelas’ kualitasnya.

Categories: Shout It Out Tags: , ,

BAHKAN FACTORY OUTLET PUN TAK LEPAS DARI COPET

September 8, 2009 asaria Leave a comment

Anda doyan berbelanja di factory outlet?

Mulai sekarang, tingkatkan kewaspadaan Anda jika ingin berbelanja di FO. Karena FO pun tak lepas dari copet. Tidak percaya? Tulisan ini berdasarkan pengalaman saya di sebuah FO di Dago – Bandung akhir pekan lalu.

Awalnya saya berniat membelikan pakaian untuk keponakan saya di, sebut saja FO X, yang memang tempat ternyaman bagi saya untuk berbelanja dibandingkan FO lainnya. Hari Minggu sekitar jam 13.30 saya masuk ke FO X dan langsung menuju pojok pakaian anak-anak. Waktu itu, saya menyandang tas backpack yang berisi laptop, pakaian, Al Quran, kamera, dan dompet di punggung. Sekitar jam 14.08 saya berjalan mendekati kasir mengambil tas belanja untuk memudahkan saya menyimpan pakaian yang sudah saya pilih. Jam 14.20 saya berpindah ke area sandal dan saat itu sepasang suami istri (thanks and sorry for you guys) mengingatkan saya kalau tas saya terbuka. Saya pun langsung mencek isi tas saya. Viola, dompet beserta paspor saya hilang.

Kaget? Jelas! Kok bisa-bisanya tempat sekelas FO yang ber-CCTV dan security di mana-mana disusupi pencopet?

Categories: Shout It Out Tags: , ,

ADA APA DENGAN KITA?

May 15, 2009 asaria Leave a comment

Saya menulis post ini karena makin lama saya semakin heran, ada apa dengan kita?

Pertama,
Jalan Ciledug Raya yang saya lewati tiap kali berangkat dan pulang kantor, sangat sangat macet. Paling heran, mulai dari Kreo (kalau Kreo memang tidak mengherankan jika macet setiap pagi) hingga Bates. Motor-motor saja tersendat, apalagi mobil. Ternyata setelah berhasil melewati pangkal macet, saya jadi tahu kalau penyebabnya ternyata sebuah bus PATAS yang sedang ngetem di ujung pertigaan, di depan rumah makan (kalau Anda langganan Ciledug Raya seperti saya, pasti hafal, kalau tidak salah nama jalannya Pesanggrahan, silahkan dikoreksi jika salah). Nah, sementara di sisi kanan jalan, beberapa mobil pribadi dan angkot ngotot membelok dari arah yang berlawanan. Hm,… alhasil, trotoar jadi alternative terutama bagi pengendara sepeda motor. Alamak…. pasti bagi Sahabat yang tinggal di Jakarta atau daerah satelit Jakarta tak asing dengan kejadian seperti ini. Betul kan?

Aneh ya, terkadang kita memenuhi keinginan kita tanpa memperhitungkan apakah ada orang lain yang terimbas akibatnya atau tidak. Sangat permisif dengan diri sendiri, meski ada orang lain yang dirugikan. Ya, seperti kasus kendaraan umum yang sering berhenti tiba-tiba padahal ada banyak kendaraan lain di belakangnya, tidak memberi tanda dengan lampu sign lagi. Ckckck,… atau perilaku kita, ya saya juga sering ngotot-an kalau bawa motor termasuk ngembat trotoar yang nyata-nyata hak para pejalan kaki, yang tidak mau kalah saat berkendara. Kalau masih bisa nyalip dan maju duluan, mengapa memberi pengendara lain jalan? Toh, kita sama-sama terjebak macet kan? Kenapa ya? Kok kita begitu ya?

Kedua,
Kejadian yang beberapa kali dialami Sahabat saya. Beberapa kali dia berinisiatif membawa jajanan dari rumah dan menjualnya di tempat kerja. Hasilnya? Alhamdulillah, jajanan yang dia bawa banyak yang laku. Tapi, alih-alih untung, dia malah sering nombok tuh. Alasannya, uangnya gak ketemu. Barang habis, uangnya tak ada. Atau, jumlahnya tak sebanding dengan hasil penjualan yang seharusnya. Sahabat saya sih, emoh ngomel-ngomel. Sederhana, “Memangnya ngomel-ngomel bakal ngebalikin duit gw yang raib apa? Temen-temen gw ntar yang bales ngomel karena ngerasa tertuduh”, ujarnya. Toh, pengalaman ini bukan kali pertama bagi dirinya. Dulu waktu masih tinggal di asrama dia juga sering mengalami kejadian serupa. Barang habis, uang tak tampak. Paling radikal lagi, cerita sahabat saya, sebelum makan siang dia menghitung jumlah uang hasil penjualan jajanannya sekitar 30 ribuan, eh tahu-tahu sebelum pulang sewaktu dia mengambil uangnya, tersisa 15 ribuan saja. Loh? Ono opo iki? Kok iso? Weleh-weleh…

Saya hanya kasihan pada siapa pun yang mengambil uang itu (asumsikan uang itu diambil orang lain). Kok mau dia menafkahi tubuhnya dengan harta yang jelas-jelas bukan hak-nya. Dan tentu saja, dalam agama yang saya yakini, hukumnya haram.

Pertanyaan saya lagi, ada apa dengan kita? Mengapa kita sering begitu mudah melanggar dan mengabaikan hak orang lain demi hak kita sendiri terpenuhi?

….more than just my 2 cents…

Categories: Shout It Out